Rabu, 06 April 2011

Kebijakan Moneter


Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Kelas : 1EB18
NPM : 25210740

Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, "margin requirement", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. 
Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu : 
  1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar
  1. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain : 
  1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
  1. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
  1. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
  1. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia.[4]
Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

Industrialisasi

Nama : Rebdy Fauziansyah Putra
NPM : 25210740
Kelas : 1EB18
1. Konsep dan Tujuan Industrialisasi
Dalam sejarah pembangunan eknomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi pertamam pada pertengahan abad ke-18 yang terjadi di Inggris, dengan penemuan metode baru untuk pemintalan, penenunan kapas, serta peningkatan faktor produksi yang digunakan.
Industrialisasi suatu proses interaksi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.
Selain itu, industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk sedikit dan kekayaan alam melimpah, seperti Kuwait dan Libya (negara penghasil minyak) ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa industrialisasi.
Setelah perang dunia II juga banyak bermunculan perkemebangan teknologi yang baru, misalnya produksi dengan skala besar dengan konsepassembling, listrik, penemuan bahan-bahan sintetik, kendaraan bermotor, revolusi teknologi komunikasi, sampai pada penggunaan robot. Semua perubahan yang terjadi ini juga ikut memacu proses industrialisasi dunia karena perkembangan ini mengubah pola produksi industri dan meningkatkan kapasitas (volume) perdagangan dunia.
2. Faktor Pendorong
Faktor pendorong selain dari perkembangan teknologi (T) dan inovasi (In), serta laju pertumbuhan pendapatan per kapita adalah sebagai berikut:
a) Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negara.
Negara yang awalnya memiliki industri dasar/primer/hulu seperti baja, semen, kimia, dan industri tengah seperti mesin alat produksi akan mengalami proses industrialisasi yang relatif lebih cepat. Hal ini dikarenakan jika sudah terdapat berbagai industri hulu dan menengah yang kuat, maka otomatis negara yang bersangkutan akan lebih mudah untuk membangun industri hilir dengan tingkat diversifikasi produksi yang tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang belum mempunyai industri hulu dan menengah.
b) Besarnya pasar dalam negeri yang ditentukan oleh kombinasi antar populasi dan tingkat pendapatan nasional riil per kapita. Besar pangsa pasar DN yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah penduduk. Misalnya, Indonesia dengan 200 juta orang menyebabkan pertumbuhan kegiatan ekonomi, karena pasar yang besar menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi dalam proses produksi (asumsi:faktor penentu lainnya cukup mendukung).
c) Ciri industrialisasi, yaitu cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan, termasuk di dalamnya adalah insentif  kepada investor.
d) Kondisi dan keberadaan Sumber Daya Alam (SDA). Negara dengan SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi, karena tingkat diversifikasi dan laju pertumbuhan eknominya relatif rendah.
e) Kebijakan dan strategi pemerintah, seperti tax holiday, bebas bea masuk untuk bahan baku impor, pinjaman dengan suku bunga yang relatif rendah.

sektor pertanian (tugas softskill perekonomian indonesia)

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
NPM : 25210740
Kelas : 1EB18


Struktur perekonomian Indonesia merupakan topik strategis yang sampai sekarang masih menjadi topik sentral dalam berbagai diskusi di ruang publik. Kita sudah sering mendiskusikan topik ini jauh sebelum era reformasi tahun 1998. Gagasan mengenai langkah-langkah perekonomian Indonesia menuju era industrialisasi, dengan mempertimbangkan usaha mempersempit jurang ketimpangan sosial dan pemberdayaan daerah, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan kiranya perlu kita evaluasi kembali sesuai dengan konteks kekinian dan tantangan perekonomian Indonesia di era globalisasi.

Tantangan perekonomian di era globalisasi ini masih sama dengan era sebelumnya, yaitu bagaimana subjek dari perekonomian Indonesia, yaitu penduduk Indonesia sejahtera. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ada 235 juta penduduk yang tersebar dari Merauke sampai Sabang. Jumlah penduduk yang besar ini menjadi pertimbangan utama pemerintah pusat dan daerah, sehingga arah perekonomian Indonesia masa itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. 

Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita juga semakin kuat.

Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.

Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebab dari produktivitas ini adalah karena pasokan air yang mengairi lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang kita miliki juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air yang dialirkan dari pegunungan ke lahan pertanian.

Sesuai dengan permasalahan aktual yang kita hadapi masa kini, kita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, terutama karena semakin murahnya produk pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia, dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian Indonesia.

Struktur tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen. 

Sedangkan pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi. 

Data ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan. 

Strategi pertama adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.

Strategi kedua adalah dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan, listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor ini.

Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia. 

Saat ini kita mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kebijakan yang dapat membentuk struktur perekonomian Indonesia di masa depan. Namun, beberapa permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di masa ini perlu segera dibenahi, sehingga kita dapat meneruskan hasil dari kebijakan perekonomian Indonesia yang sudah dibangun puluhan tahun lalu, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sampai saat sekarang ini.

Pembangunan Ekonomi

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Npm : 25210740
kelas : 1EB18
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti

Faktor
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.
Faktor ekonomi yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Sumber daya alam, yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan iklim/cuacahasil hutantambang, dan hasil laut, sangat memengaruhi pertumbuhan industri suatu negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dankewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi (disebut juga sebagai proses produksi).

Sabtu, 02 April 2011

Kemiskinan dan kesenjangan

Nama : Rendy Fauziansyah Putra 
NPM : 25210740
Kelas : 1EB18


Tugas softskill ke-3 (minggu 5/6)



1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2009-Maret 2010 

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang berjumlah 32,53 juta (14,15 persen),  berarti jumlah penduduk miskin berkurang 1,51 juta jiwa. 
Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun lebih besar daripada daerah perdesaan. Selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang,  sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang (Tabel 2). 
Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan  dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen. 
Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2009-Maret 2010 
nampaknya berkaitan dengan  faktor-faktor berikut: 
a. Selama periode Maret 2009-Maret 2010 inflasi umum relatif rendah, yaitu sebesar 3,43 persen. Menurut kelompok pengeluaran kenaikan harga selama periode tersebut terjadi pada kelompok bahan 
makanan sebesar 4,11 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 8,04 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 3,85 persen; kelompok kesehatan sebesar 3,18 persen; kelompok sandang sebesar 0,78 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 2,08 persen, serta kelompok transpor dan komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,38 persen.
b. Rata-rata upah harian buruh tani dan buruh bangunan masing-masing naik sebesar 3,27 persen dan 3,86 persen selama periode Maret 2009-Maret 2010.  
c. Produksi padi tahun 2010 (hasil Angka Ramalan/ARAM II) mencapai 65,15 juta ton GKG, naik sekitar 1,17 persen dari produksi padi tahun 2009 yang sebesar 64,40 juta ton GKG.
d. Sebagian besar penduduk miskin (64,65 persen pada tahun 2009) bekerja di Sektor Pertanian. NTP (Nilai Tukar Petani) naik 2,45 persen dari 98,78 pada Maret 2009 menjadi 101,20 pada Maret  2010.  
e. Perekonomian Indonesia Triwulan I 2010 tumbuh sebesar 5,7 persen terhadap Triwulan I 2009, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat sebesar 3,9 persen pada periode yang sama.  


2. Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2009-Maret 2010
Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk menentukan miskin atau tidaknya 
seseorang. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Selama Maret 2009-Maret 2010, Garis Kemiskinan naik sebesar 5,72 persen, yaitu dari Rp200.262,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp211.726,- per kapita per bulan pada Maret 2010. Dengan memerhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, 
pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2009 sumbangan GKM terhadap GK sebesar 73,6 persen, dan sekitar 73,5 persen pada Maret 2010.   
Pada Maret 2010, komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah beras yaitu sebesar 25,20 persen di perkotaan dan 34,11 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua kepada Garis Kemiskinan (7,93 persen di perkotaan dan 5,90 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah gula pasir (3,36 persen di perkotaan dan 4,34 persen di perdesaan), telur ayam ras (3,42 persen di perkotaan dan 2,61 di perdesaan), mie instan (2,97 persen di perkotaan dan 2,51 persen di perdesaan), tempe (2,24 persen di perkotaan dan 1,91 persen di perdesaan), 
bawang merah (1,36 persen di perkotaan dan 1,66 persen di perdesaan), kopi (1,23 persen di perkotaan dan 1,56 persen di perdesaan), dan tahu (2,01 persen di perkotaan dan 1,55 persen di perdesaan). 
Komoditi bukan makanan yang memberi sumbangan besar untuk Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan (8,43 persen di perkotaan dan 6,11 persen di perdesaan), biaya listrik (3,30 persen di perkotaan dan 1,87 persen di perdesaan), dan angkutan (2,48 persen di perkotaan dan 1,19 persen di perdesaan), dan biaya pendidikan (2,40 persen di perkotaan dan 1,16 persen di perdesaan)


Program pemerintah saat ini untuk menangulangi kemiskinan

Kemiskinan merupakan hal yang biasa di sekitar kita, Indonesia. Sangat mudah menemukan orang miskin dan kantong-kantong kemiskinan di sekitar rumah. Indonesia mencatat tidak kurang 37,17 juta (Maret 2007) penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mendiami negara ini. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah secara faktual meskipun secara persentase sering diklaim telah mengalami penurunan. Terlebih dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 28,7 persen. Jumlah orang miskin diperkirakan akan bertambah menjadi 41,5 juta jiwa jika BBM benar-benar naik. Sekali lagi masyarakat kecil menjadi korban dari ketidakmampuan negara mengelola kekayaannya.
Pemerintah bukannya tidak menyadari hal ini. Beban pemerintah sendiri sudah sangat berat untuk membereskan berbagai sektor. Dengan alasan harga minyak dunia mencapai 120 dolar/barel, beban subsidi harus dikurangi oleh pemerintah, BBM dinaikan sebesar 28,7%. Kenaikan sebesar itu akan memberi ruang fiskal yang cukup longgar bagi APBN sebesar Rp 21,491 triliun serta menambah penghematan anggaran menjadi Rp 25,877 triliun.
Pemerintah dalam upayanya mengurangi (bukan menghilangkan) beban hidup masyarakat miskin salah satunya adalah menciptakan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Duitnya di ambil dari pengalihan dana subsidi BBM. Pemerintah menyiapkan dana Rp14,1 triliun untuk pelaksanaan program BLT selama tujuh bulan dalam tahun anggaran 2008.
Dana subsidi ini kemudian dialihkan langsung kepada orang miskin dalam berbagai program. Pemerintah beralasan subsidi BBM kini lebih banyak dinikmati oleh orang kaya pemilik kendaraan. Sudah saatnya subsidi hanya layak dinikmati oleh si miskin tetapi ini pun untuk orang yang benar-benar miskin (lihat kriteria orang miskin menurut BPS).
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam berbagai media menjelaskan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bahwa BLT itu ditujukan kepada 19,1 juta Kepala Keluarga (KK) miskin dengan jumlah bantuan Rp 100 ribu per KK setiap bulannya. Program BLT itu sudah dimulai pada akhir Mei 2008 guna dilaksanakan secara penuh sampai Desember 2008. Program ini kemungkinan besar akan dilanjutkan pada 2009 dengan nilai yang akan dinegosiasikan dengan DPR.
Program pemberian bantuan langsung untuk orang miskin ada beberapa model dan bentuk. Ada dalam bentuk barang seperti pemberian beras (beras miskin-raskin), pemberian fasilitas umum untuk daerah miskin (program pemberdayaan kecamatan-PPK/PNPM/P2KP) hingga pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dari berbagai bantuan tersebut tampaknya yang paling menghebohkan adalah BLT. Mungkin karena berupa uang tunai sehingga yang berebut pun jumpalitan. Kalau ada masyarakat yang tidak mendapat BLT, karena yakin dirinya miskin, maka perlu melabrak pihak-pihak yang bertanggung jawab seperti Pak Keuchik.
Upaya pemberian BLT adalah usaha instan, yang sebenarnya diniatkan awalnya bukan untuk mengatasi kemiskinan. Pemberian duit Rp.100 ribu/bulan merupakan bantuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga akan bahan bakar minyak setiap bulan. BPS memperhitungkan, setiap rumah tangga menghabiskan Rp. 3000/hari untuk minyak tanah. Selama satu bulan (30 hari) diperkirakan membutuhkan biaya Rp.90.000, kemudian dibulatkan menjadi Rp.100 ribu. Angka inilah yang menjadi dasar pemberian BLT kepada rumah tangga (bukan Kepala Keluarga-KK). Dengan harapan setidaknya duit tersebut dapat dipakai untuk membeli minyak tanah untuk memasak ataupun penerangan. Namun persepsi di lapangan sudah berbeda.

Pendapatan perkapita indonesia saat ini dan bandingkan dengan Negara indonesia
Akhirnya, pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai USD 18,000 per tahun. Hal ini dilaporkan langsung dari badan dunia. Dan dengan pendapatan sebesar itu, negara Indonesia telah mampu menyamai negara2 besar lainnya seperti China, India, Amerika dan Uni Eropa. Sedangkan negara2 ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia dan Thailand serta negara2 Asia Timur seperti Jepang, Hongkong dan Taiwan harus mengakui keunggulan negeri jambrut khatulistiwa ini. Bahkan 30 perusahaan Indonesia berhasil masuk dalam daftar 500 perusahaan besar dunia.


Rabu, 16 Maret 2011

Tugas minggu ke-4 : Mencari data pertumbuhan ekonomi pemerintahan berjalan di BPS atau browsing melalui internet.

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
kelas : 1EB18
NPM : 25210740

PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 


Pertumbuhan makro ekonomi Indonesia yang di ukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto / PDB pada triwulan III/2010 (q to q). Harus diakui telah terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Pelemahan nilai US dollar yang terjadi belakangan ini masih terus berlangsung dan mengkwatirkan banyak negara dan di perkirakan nilai Dollar AS menjadi mata uang terlemah selama tahun 2011.
Bank Dunia memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 ditargetkan bisa melampaui 6,4 persen bahkan bisa mencapai angka 7 persen apabila pemerintah Indonesia melakukan reformasi secara menyeluruh pada berbagai bidang termasuk pembenahan infrastruktur.
“Angka 6,4 itu baik. Bahkan Indonesia berpotensi besar untuk tumbuh mencapai angka 7 persen,” kata Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia, Enrique Blanco Armas dalam peluncuran laporan Prospek Ekonomi Global (Global Economic Prospects) dari Bank Dunia, di Jakarta, Kamis (13/01).
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi itu bisa dicapai jika pemerintah melakukan reformasi secara menyeluruh terutama sektor infrastruktur, baik jalan tol, listrik, transportasi, telekomunikasi, minyak dan gas bumi, air minum, sanitasi, dan lainnya. Karena, jelasnya, sektor infrastruktur masih menjadi masalah yang harus lebih difokuskan oleh pemerintah, sehingga hal itu tergantung pada kebijakan pemerintah terhadap anggaran di tahun ini.
Sementara itu, Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia, Hans Timmer dalam telekonferensi mengatakan, menurut proyeksi ekonomi global Bank Dunia, saat ini derasnya arus modal asing yang masuk dan harga komoditas yang meningkat di Indonesia bisa menguntungkan dan memperkuat pemulihan bagi pertumbuhan Indonesia.
Hans menambahkan, meski ekonomi global saat ini masih labil, peningkatan dari arus modal internasional bisa memperkuat pemulihan di kebanyakan negara berkembang.
Sedangkan, menurut ekonom utama Bank Dunia, Subham Chaudhuri memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 hanya mencapai 6,2 persen dan pada tahun 2012 akan mencapai 6,5 persen, mengingat sektor infrastruktur di Indonesia perlu dibenahi terlebih dahulu agar Indonesia bisa menjadi pasar yang potensial.

Rabu, 02 Maret 2011

tugas Pemerintahan Indonesia bersatu minggu ke 1

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Kelas : 1EB18
NPM : 25210740

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi Presiden RI untuk periode kedua, 2009 - 2014, pada 20 Oktober 2009. Bersama Wakil Presiden Boediono, Presiden SBY diambil sumpahnya dalam Sidang Paripurna MPR-RI. Sehari kemudian, 21 Oktober 2009, Presiden SBY mengumumkan daftar anggota kabinet baru yang dinamai `Kabinet Indonesia Bersatu II`. Sesuai ketentuan UU No.39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, jumlah kementerian tetap 34, terdiri atas 3 (tiga) Menteri Koordinator dan seorang Sekretaris Negara, 20 (duapuluh) menteri 
yang memimpin departemen, dan 10 (sepuluh) menteri negara.

Berikut nama-nama menteri dan pejabat setingkat menteri yang akan menjabat untuk periode 2009-2014:
1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Segaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Pejabat Negara Setingkat Menteri:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan
Mirip seperti proses penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu, SBY kembali memanggil calon-calon anggota kabinet ke kediaman pribadinya di CikeasBogorJawa Barat, untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan serta penandatanganan pakta integritas dan kontrak politik. Yang menjadi tambahan dalam proses penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu II ini adalah adanya tes kesehatan sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para calon. Tes kesehatan dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto. Proses pemanggilan dan tes kesehatan berlangsung pada 17-21 Oktober 2009. Seluruh calon yang dipanggil dan mengikuti tes kesehatan akhirnya menjadi anggota kabinet, kecuali Nila Djuwita Anfasa Moeloek yang awalnya disebut-sebut sebagai calon Menteri Kesehatan.
Pemerintahan cabinet Indonesia bersatu, banyak hal-hal urgen dalam tubuh pemerintahan yang perlu di evaluasi, terutama kinerja para menteri cabinet sejauh mana telah melaksanakn tugas nya, dan menyelesakan problem Negara dan rakyat. Karena begitu banyaknya masalah Negara yang belum diselesaikan. Presiden dalam hal ini SBY mewacanakan pada public bahwa dirinya akan melakukan pergantian cabinet atau reshuffle cabinet. Hal ini menuai pro dan kontra dari berbagai elemen partai politik, tokoh, dan para menteri itu sendiri.
Dari satu sudut ada yang mengatakan reshuffle bukanlah solusi, karena megganti menteri seakan presiden tidak salah tapi menterinya lah yang salah, presiden seolah mengkambing hitamkan kinerja buruk pemerintahannya kepada para menteri. Di sudut lain ada yang mengatakan reshuffle sangat bagus dan merupakan pilihan tepat, melihat banyak menteri yang tidak becus bekerja sebagai problem solver di setiap masalah negeri  yang ada. Tapi, bagaimana pun juga sebagai Negara yang menganut system presidensial, reshuffle kabinet  merupakan hak prerogative presiden. Sebagaimana yang telah di atur dalam BAB V pasal 17 ayat 2 UUD 1945, yaitu menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
Tetapi menurut hemat saya, tuntutan reshuffle kabinet merupakan agenda politik yang rumit dan berdimensi luas bagi implikasi ekonomi. Keraguan atau kelambatan memutuskan perlu tidaknya reshuffle kabinet akan menimbulkan ketidakstabilan politik yang tentu saja akan diikuti ketidakstabilan ekonomi-moneter. Reshuffle cabinet juga terkesan tergesa-gesa dan terburu-buru. Karena para menteri baru 1 tahun bekerja, maka haruslah dievaluasi dan dilihat kekurangan terlebih dahulu. Dimanakah letak kinerja para menteri yang dianggap buruk tersebut, kemudian di berikan pemecahannya. Jika inti masalahnya adalah ada di menterinya sendiri karena tidak peka dan tanggap dengan gejolak social masyarakat dan keadaan bawahannya. Maka sudah seyogyanya menteri itu harus diganti. Karna menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.
Dan mengenai kebijakan presiden nantinya dalam memilih jajaran cabinet jilid II nya, haruslah setelah melalui fit and propher test yang dapat di pertanggung jawabkan dan dengan cara mekanisme pemilihan yang tepat. Tidak bisa dilakukan secara politisi akibat dari desakan atau manuver politik tertentu. Presiden harus tepat memlilih orang yang kompeten dalam memasuki kabinetnya agar dapat menjalankan pemerintahan empat tahun kedepan dengan baik dan dapat mmenyelesaikan setumpuk problematika negeri yang sudah begitu akut. Karena kalau tidak, maka SBY harus siap-siap menunggu demonstrasi dan amukan massa  yang lebih besar dan dahsyat lagi dari rakyat. 

Sabtu, 08 Januari 2011

tulisan pengantar bisnis

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Kelas : 1EB18
NPM : 25210740
  
Memulai bisnis Catering Rumahan
Memulai usaha catering rumahan sebaiknya dalam jumlah yg kecil dulu, misal untuk 10 rumah. Memasak dalan jumlah besar akan lain sekali cara pengerjaannya dengan jumlah kecil seperti untuk keluarga sendiri. Karena untuk bisnis catering rumahan kita setiap saat mesti membuat perhitungan biaya bahan pokok, biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan peralatan dan biaya tak terduga jika bahan pokok mengalami kerusakan. Terlebih saat ini harga bahan pokok dan pendukung tidak stabil.
Membuat variasi menu juga merupakan faktor penentu dalam catering rumahan, dan faktor kesabaran masuk dalam urutan berikutnya. Terkadang ada pelanggan minta menu khusus seperti kalo sup jangan pakai buncis atau kalo telur balado telurnya jangan digoreng lagi setelah direbus, atau sambal jangan terlalu pedas.
Ini sekelumit pengalaman aku dalam catering rumahan sebelum menginjak ke catering untuk berbagai event.
Untuk harga catering saat ini mungkin bisa dimulai dgn Rp.35.000,- /hari , makanan diantar jam 11.30 siang ( lain daerah akan lain harga bahan pokok dan pendukung, jadi bisa disesuaikan dgn situasi dan kondisi).
Survey harga catering di tempat lain sekitar tempat kita tinggal juga sangat bagus untuk menentukan harga catering kita, usahakan harga yg kita tawarkan lebih sedikit murah atau harga sama namun porsi lebih besar.
Sebagai pemain baru promosi merupakan hal penting. Bisa buat spanduk didepan rumah atau sebarkan brosur sederhana, dapat dititipkan ke tukang koran, tukang sayur, tukang roti atau tempat foto kopi yg ada di sekitar rumah kita. Atau saat arisan atau pengajian bisa kita berikan brosur tersebut. Juga kalo di dekat rumah ada sekolah, bisa kerjasama dgn pihak sekolah untuk catering anak2 bahkan guru2 juga bisa titipkan brosur untuk orang tua murid melalui guru2.
Yuk kita mulai berhitung.
Misalkan menu hari 1:
Nasi putih,  ayam goreng saus mentega, Sup sayuran, tahu isi, kerupuk, sambal
Bahan yg diperlukan :
  • 500 gr beras kwalitas sedang ( Rp.2.300)
  • ½ kg ayam potong 6 ( biaya +/- Rp.13.000,)
  • Bahan sup Rp.4.000,-
  • 7 buah tahu putih ( biaya +/- Rp.2000,-)
  • Toge & wortel utk isi tahu putih ( biaya +/- Rp.600,-)
  • Kerupuk ( biaya Rp.2.000,-)
  • Sambal ( biaya Rp.1.000,-)
  • Biaya bumbu dan minyak goreng (Rp.4.000,-)
Total Biaya : Rp.29.000,- ( perhitungan biaya tertinggi)
Jika kita belanja dalam jumlah banyak , total biaya yg dikeluarkan bisa lebih hemat 30%  jadi kira2 Rp.21.000,-
Perkiraan 1 bulan
  • Biaya bahan pokok Rp.21.000,- x 30 hari = Rp.630.000,- x 10 = Rp.6.300.000,-
  • Pemasukan : Rp.35.000,- x 30 hari = Rp.1.050.000,- x 10 = Rp.10.500.000,-
Harga Pemasukan tersebut belum dipotong biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan barang dan biaya tak terduga. Kurang lebih kita bisa mendapat keuntungan Rp.2.000.000,-/bulan selain biaya makan untuk rumah umumnya sudah tercover dari hasil masakan kita untuk catering.
Seperti ayam, umumnya kepala dan ceker tidak diberikan ke pelanggan dan bisa dimanfaatkan untuk rumah. Begitu juga kepala ikan, kepala udang, kaldunya bisa kita manfaatkan untuk dibuat kaldu sup untuk rumah.
Menjawab pertanyaan teman aku ( Mbak Atik)  yg memulai bisnis catering rumahan dgn 2 anak yg masih kecil, paling tidak memperkerjakan 2 orang pembantu, bisa yg pulang hari,  kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Untuk pengantaran catering yg dekat bisa minta tolong pembantu, namun yg jauh aku biasanya sewa ojek dgn system embayaran bulanan, jauh lebih mulai dibandingkan sekali antar.
Untuk belanja bahan 2 catering jika tempat penyimpanan memadai bisa belanja 3hari sekali, namun jika tdk bisa memanfaatkan jasa tukang sayur dgn cara beli /pesan bahan yg kita butuhkan dalam jumlah kiloan, jika kita potong ongkos transport ke pasang dan jajan kita dipasar selisih harga dgn belanja di tukang sayur tdk terlalu jauh.
Umumnya tukang sayur juga memberikan harga beda jika kita bilang untuk catering dan menjadikan dia salah satu langganan kita. Sebaiknya kita mengetahui harga dipasar jadi bisa nego dgn tukang sayur. Misal, harga wortel di pasar Rp.4.000,-/kilo kalo sdh diecer dan dimasukkan plastik oleh tukang sayur harga per kilo mencapai Rp.7.000,- tapi jika kita langsung beli 1 kilo bisa mendapat harga Rp.5.000,- selisih Rp.1.000,- dgn kita beli dipasar, tapi kalo kita hitung transport dan biasanya ibu2 suka jajan dipasar akan sama saja bahkan terkadang jatuhnya lebih mahal belum lagi tenaga yg dikeluarkan.

tulisan pengantar bisnis

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Kelas : 1EB18
NPM : 25210740

Bisnis Pisang Goreng Beromzet Miliaran berkat Inovasi


Berani mencoba dan tekun bisa menjadi kunci sukses bisnis.Bermodal ketekunan dan kegigihan itulah Wildan yang hanya tamatan SMA menjadi wirausahawan sukses. Wildan–demikian panggilan akrabnya– tak pernah bermimpi menjadi sukses seperti saat ini. Dia cukup tahu diri. Bekal pendidikan yang dia dapatkan hanya pas-pasan.

Namun, kerja keras yang telah dirintisnya beberapa tahun mampu membalikkan nasib bapak lima anak ini. Ihwal sukses Wildan berawal dari sebuah gerai berukuran 9x10 M berlokasi di bawah flyover Jalan ExitTol RC Veteran,Bintaro,Jakarta Selatan, yang ia sewa empat tahun yang lalu. Bermodal awal Rp75 juta, pria asal Lampung ini mencoba peruntungan membuka bisnis pisang goreng.Keberanian Wildan membuka gerai jajanan pasar pisang goreng boleh diacungkan jempol. 

Pasalnya, hampir di setiap sudut jalan di Jakarta pasti ditemui jajanan pasar ini.Namun, berkat inovasi produk yang dia beri nama ”Pisang Goreng Pasir” ini diminati banyak orang. Menggelitik memang ketika mendengar kata ”pisang goreng pasir”,dan pasti timbul pertanyaan apakah pisang itu dimasak dengan pasir. Menurut si empunya, nama pasir berasal dari butiran-butiran kecil kecokelatan yang mirip dengan pasir yang ada pada tepung yang menyelimuti pisang goreng. 

Wildan berpikir,nama pasir ini akan menjadi magnet tersendiri. Wildan bercerita, mendapat ide berbisnis pisang goreng berawal dari menjamurnya gerai-gerai pisang goreng yang berada di daerah Bintaro.”Pada 2005 lalu di jalan sekitar sini banyak gerai pisang goreng,dan yang paling laku yakni pisang goreng pontianak”, ujar pria kelahiran Lampung. Setelah mengantre dan ikut mencoba mencicipi pisang goreng pontianak yang memang sedang booming saat itu.Wildan melihat bentuk tepungnya begitu unik namun dari segi rasa menurutnya kurang nikmat.

Wildan memutuskan mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda. Minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian.”Tujuannya agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi,”katanya. Mengenai jenis pisang yang digunakan,Wildan memilih pisang lampung karena potensi pisang di Lampung cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang dari Pontianak. 

Hasil dari cobacoba dan terus inovasi, ide ayah lima anak ini berbuah manis. Di hari pertama penjualannya,pisang goreng pasir laku hingga 500 potong. Didukung embel-embel nama pasir, ternyata membuat orang makin penasaran dengan pisang goreng hasil olahannya. Tantangan Wildan dalam membesarkan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Stok bahan baku yang ia dapatkan terkadang kosong. 

Pernah ia siasati dengan mengganti bahan baku yang jenis pisangnya berbeda namun kualitasnya di atas pisang kepok kuning dari Lampung tapi sebagian besar pelanggannya kecewa. Hingga kini Wildan selalu menjaga mutu.Ketika stok bahan baku tidak ada,gerainya akan tutup padaesokataulusanya.Namun,saat ini dirinya dapat mengantisipasi kekosongan bahan baku.setiap hari ia menerima 300 tandan pisang yang langsung didatangkan dari Lampung. 

Untuk menyimpan seluruh pasokan pisangnya, ia memusatkan pada satu gudang yang terletak di daerah Cipete. Selain itu,Wildan selalu menjaga citra dagangannya dengan cara menjadikan produknya bisa masuk ke semua kalangan.Dia mengatakan, walaupun berupa jajanan pasar, produknya bisa menjadi makanan yang bersih dan semua orang bisa menyukainya. Usaha yang ia geluti hampir lima tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Saat ini ia memiliki 100 pegawai yang tersebar di 15 gerai di seluruh Jabodetabek. 

Dia mampu menjual 1.000 potong pisang pada hari biasa dengan harga per potong Rp2.500. Sementara, di akhir pekan bisa mencapai 4.000 potong pisang. Itu pun hanya untuk setiap gerainya. Jika dihitung,Wildan bisa mengantongi omzet penjualan Rp2,5 juta per hari tiap gerainya. Bila saat ini ia memiliki 15 gerai, berarti Wildan memiliki omzet penjualan Rp37,5 juta per hari dan dalam sebulan omzetnya mencapai Rp1,125 miliar. Selain bisnis pisang goreng,Wildan melakukan inovasi baru yakni membuat kompor pintar untuk mendongkrak penjualan pisang gorengnya. 

Wildan mengaku, dengan adanya kompor pintar ini dapat memberikan berbagai keuntungan. Salah satu keuntungan yangiadapatyaknibisamenghemat 20% bahanbakardalampemakaian gas 12 kg. ”Bila dengan kompor gas biasa setiap menggoreng hanya bisa 20 pisang.Tetapi sekarang dengan kompor pintar bisa menggoreng hampir 100 pisang sekali goreng,” ucapnya sumringah. Penghematan waktu menggoreng juga diamini pria yang dulunya pernah bekerja sebagai salesman panci ini. 

”Rata-rata setiap menggoreng tanpa kompor pintar berkisar 15–20 menit namun sekarang 10 menit saja sudah bisa dicapai,” demikian Wildan bertutur. Dengan kesuksesan yang sudah diraihnya saat ini tidak membuat Wildan berpuas diri.Wildan selalu mencari celah untuk bisa memasarkan produknya ke segala lapisan konsumen. Ini terlihat dari rencananya ke depan yang akan menjual pisang goreng pasir ke tempattempat yang tidak mungkin dijangkau olehnya. 

Seperti terminal ataupun kampus-kampus dengan cara menggunakan sepeda motor yang sedang dia modifikasi saat ini. Rencananya untuk memasarkan produk melalui delevery order atau sepeda motor adalah salah satu solusi un-tuk para konsumen yang selalu meminta dirinya menjadi partner bisnis.

Wildan juga sempat mendapat tawaran di dalam negeri maupun di beberapa negara tetangga untuk menjadi rekanan. Lagi-lagi Wildan belum siap menerima tawaran itu. ”Dikhawatirkan akan merusak bahan baku pisang karena terlalu lama dalam pengirimannya,”paparnya.

tulisan pengantar bisnis

Nama : Rendy Fauziansyah Putra
Kelas : 1EB18
NPM : 25210740


Dana Intervensi Harga 

Pemerintah menyiapkan Rp 2 Triliun dari 3 Triliun dana cadangan risiko fiskal khusus pangan dalam APBN 2011. Dana itu untuk mensatbilkan harga bahan pangan yang melonjak. Penggunaan dana ini akan di fokuskan ke daerah yang rentan terkena tekanan harga makanan. "anggaran Rp 2 triliun itu bisa digunakan oleh kementrian dan lembaga untuk mengintervensi harga makanan. Ini yang sedang kami susun agar penggunaannya betul betul efektif, " ujar Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta. Menurut Hatta, upaya yang paling ampuh untuk mengintervensi harga makanan dengan operasi pasar (OP). Pemerintah memastikan akan meningkatkan kapasitas OP. Saat ini, setiap hari di gelontorkan 2000 ton beras untuk OP, yang akan di tingkatkan menjadi dua kali lipat. Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan OP beras bukan untuk beras medium saja melqainkan berasn premium. "Sehingga volume beras OP sekarang rata-rata perhari diatas 4000 ton" katanya. Untuk memperkuat OP, stok beras di Bulog harus selalu berada di level 1,5 juta ton. Penyalurkan beras untuk rakyat miskin (raskin) juga di percepat. Raskin direncakan dilipat gandakan pada Februari 2011 menjadi setara dengan beras raskin untuk dua bulan.